Sabtu, 10 Mei 2014
smk 3 tegal
0
komentar
Subarashī.. Gakusei SMK 3 tegal ga seijō ni kankō o tsukuru Gakusei SMK 3 tegaru, jimoto jichitai bangumi `tegaru kaiji' no tame ni junbi sa reta paionia 01 no kankō-sen (KW) no shurui o seisei suru koto ga dekita. Hontai 7. 5 Mētoru, 2. 3 Mētoru no haba, mizu no hyōmen no kamigata 1 mētoru no taka-sa, 20-ri no saidai jōkyaku teiin no naga-sa o yūsuru sen'i de keisei sa rete iru fune. Yōki wa 20 no gakusei to 1 kyōshi no shidō ni yotte okonawa remasu. `Fune ga 3kagetsu mae kara yatte ita, ima made ni wa kansei shita sakuhin no 75 pāsentodearu. Betsu no 15-nichi hodo kakatta subete o kabā suru kanōsei' , KRjogja. Komu, doyōbi (2013-nen 2 tsuki 23-nichi) o hakken abudo~uru Kodir Junedi no kateikyōshi o, itta Mae. Sore wa rupia 1. 25 Oku no hiyō ga jisoku 18-mairu no haya-sa o motte iru zōsen wa, gakkō kara shikin o kyōkyū sa reta. SMK 3 tegaru, hajaru Devantoro no SPD heddo ni yoreba, membuatan-sen no gainen wa tegaru kaiji no insupirēshon o ki ni shite imasu. Gakusei wa hijō ni ōkina senzai-tekina sutorēji oyobi riyō-ritsu ga mada hikui umi no jitsuzai o saidaigen ni katsuyō dekiru yō ni suru koto o o susume shimasu. Hitobito wa mada sukoshi umi o riyō shitsutsu, hondo de dōsa suru keikō ga arimasu. `Watashitachi no gakusei wa funenotabi o suru yō ni shiji sa re teko no yōna riyū kara,-go de umi o aisuru kankōkyaku no tame ni shiyō suru koto ga deki, `Devantoro wa itta.
Subarashī.. Gakusei SMK 3 tegaru-sen ga seijō ni kankō o tsukuru Gakusei ---- SMK 3 tegaru, jimoto jichitai bangumi `tegaru kaiji' no tame ni junbi sa reta paionia 01 no kankō-sen (KW) no shurui o seisei suru koto ga dekita. Hontai 7. 5 Mētoru, 2. 3 Mētoru no haba, mizu no hyōmen no kamigata 1 mētoru no taka-sa, 20-ri no saidai jōkyaku teiin no naga-sa o yūsuru sen'i de keisei sa rete iru fune. Yōki wa 20 no gakusei to 1 kyōshi no shidō ni yotte okonawa remasu. `Fune ga 3kagetsu mae kara yatte ita, ima made ni wa kansei shita sakuhin no 75 pāsentodearu. Betsu no 15-nichi hodo kakatta subete o kabā suru kanōsei' , KRjogja. Komu, doyōbi (2013-nen 2 tsuki 23-nichi) o hakken abudo~uru Kodir Junedi no kateikyōshi o, itta Mae. Sore wa rupia 1. 25 Oku no hiyō ga jisoku 18-mairu no haya-sa o motte iru zōsen wa, gakkō kara shikin o kyōkyū sa reta. SMK 3 tegaru, hajaru Devantoro no SPD heddo ni yoreba, membuatan-sen no gainen wa tegaru kaiji no insupirēshon o ki ni shite imasu. Gakusei wa hijō ni ōkina senzai-tekina sutorēji oyobi riyō-ritsu ga mada hikui umi no jitsuzai o saidaigen ni katsuyō dekiru yō ni suru koto o o susume shimasu. Hitobito wa mada sukoshi umi o riyō shitsutsu, hondo de dōsa suru keikō ga arimasu. `Watashitachi no gakusei wa funenotabi o suru yō ni shiji sa re teko no yōna riyū kara,-go de umi o aisuru kankōkyaku no tame ni shiyō suru koto ga deki, `Devantoro wa itta.
Gajah Mada
Karya: Langit Kresna Hariadi
Diterbitkan oleh Tiga Serangkai
Pentalogi Gajah Mada:
o Gajah Mada
o Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara
o Gajah Mada: Hamukti Palapa
o Gajah Mada: Perang Bubat
o Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa
Setting pada novel ini adalah pemerintahan Jayanegara yang dikudeta oleh Ra Kuti. Ra Kuti adalah sebutan/singkatan dari Rakrian Kuti, sebuah anugerah dari Prabu Jayanegara menjadikan namanya menjadi Rakrian Dharma Putra Winehsuka.
Dikisahkan pada jaman ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah senopati. Dengan pangkat tersebut Gajahmada menduduki jabatan pimpinan bayangkara, sebuah pasukan khusus yang melindungi istana, raja dan keluarganya.
Seluk beluk kelicikan Ra Kuti di novel ini mengingatkan saya akan tokoh Ramapati dan kelicikan Rawedeng dalam memberontak, bermuka dua beserta segala kelicikannya. Dengan menghasut beberapa temenggung dan beberapa panglima kesatrian Ra Kuti menggulingkan Jayanegara, namun atas kecerdikan Gajah Mada dan bantuan Patih Arya Tadah, sang raja dan keluarganya berhasil diselamatkan oleh Gajah Mada dan bayangkaranya, dan terpaksa diungsikan dari istana, istana Bale Manguntur di Mojokerto.
Isi novel kemudian mengisahkan kepiawaian Gajah Mada dalam memimpin bayangkaranya, meloloskan dan mengungsikan Prabu Jayanegara, mendeskripsikan hancurnya tatanan pemerintahan dan masyarakat, mengisahkan dendam kebencian Ra Kuti kepada Gajah Mada dan Jayanegera, serta intrik bayangkara disusupi pengkhianatan yang cukup merepotkan Gajah Mada.
Penulis dengan lancar menceritakan alur kejadian, penuh dengan kosakata kemiliteran pada waktu itu, seperti deskripsi istana, struktur kemiliteran, persenjataan dan taktik perang seperti brubuh, cakrabyuha, diradameta, supit urang dan banyak lagi. Buku ini disarankan untuk dibaca oleh Brigjen (purnawirawan) H. M. Lintang Waluyo atas faktor-faktor sistem kemiliteran yang diangkat oleh sang penulis.
Bagaimana akhir cerita novel ini? Berhasilkah Gajah Mada dan bayangkaranya mengembalikan kekuasaan Majapahit kepada Jayanegara? Sebuah novel fiksi sejarah yang tak kalah menarik dari Arok Dedes dan Arus Balik-nya Pramoedya Ananta Toer.
source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=490011214359570&set=a.490011204359571.149264.188672771160084&type=1&theater
Karya: Langit Kresna Hariadi
Diterbitkan oleh Tiga Serangkai
Pentalogi Gajah Mada:
o Gajah Mada
o Gajah Mada: Bergelut dalam Kemelut Tahta dan Angkara
o Gajah Mada: Hamukti Palapa
o Gajah Mada: Perang Bubat
o Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa
Setting pada novel ini adalah pemerintahan Jayanegara yang dikudeta oleh Ra Kuti. Ra Kuti adalah sebutan/singkatan dari Rakrian Kuti, sebuah anugerah dari Prabu Jayanegara menjadikan namanya menjadi Rakrian Dharma Putra Winehsuka.
Dikisahkan pada jaman ini Gajah Mada masih seorang bekel, sebuah pangkat ketentaraan di bawah senopati. Dengan pangkat tersebut Gajahmada menduduki jabatan pimpinan bayangkara, sebuah pasukan khusus yang melindungi istana, raja dan keluarganya.
Seluk beluk kelicikan Ra Kuti di novel ini mengingatkan saya akan tokoh Ramapati dan kelicikan Rawedeng dalam memberontak, bermuka dua beserta segala kelicikannya. Dengan menghasut beberapa temenggung dan beberapa panglima kesatrian Ra Kuti menggulingkan Jayanegara, namun atas kecerdikan Gajah Mada dan bantuan Patih Arya Tadah, sang raja dan keluarganya berhasil diselamatkan oleh Gajah Mada dan bayangkaranya, dan terpaksa diungsikan dari istana, istana Bale Manguntur di Mojokerto.
Isi novel kemudian mengisahkan kepiawaian Gajah Mada dalam memimpin bayangkaranya, meloloskan dan mengungsikan Prabu Jayanegara, mendeskripsikan hancurnya tatanan pemerintahan dan masyarakat, mengisahkan dendam kebencian Ra Kuti kepada Gajah Mada dan Jayanegera, serta intrik bayangkara disusupi pengkhianatan yang cukup merepotkan Gajah Mada.
Penulis dengan lancar menceritakan alur kejadian, penuh dengan kosakata kemiliteran pada waktu itu, seperti deskripsi istana, struktur kemiliteran, persenjataan dan taktik perang seperti brubuh, cakrabyuha, diradameta, supit urang dan banyak lagi. Buku ini disarankan untuk dibaca oleh Brigjen (purnawirawan) H. M. Lintang Waluyo atas faktor-faktor sistem kemiliteran yang diangkat oleh sang penulis.
Bagaimana akhir cerita novel ini? Berhasilkah Gajah Mada dan bayangkaranya mengembalikan kekuasaan Majapahit kepada Jayanegara? Sebuah novel fiksi sejarah yang tak kalah menarik dari Arok Dedes dan Arus Balik-nya Pramoedya Ananta Toer.
source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=490011214359570&set=a.490011204359571.149264.188672771160084&type=1&theater
Concern mirror Leader ( 1 )
Apostle attention focused on all the elements .
" Every state leaders will be held accountable for the people he leads " (Bukhari and Muslim ) .
At the peak of his leadership , the Prophet Muhammad is the ideal figure of the leader of the country . Lecturer in Indonesian Islamic University ( UII ) in Yogyakarta , Ridwan Hamidi , said , one of the features the Apostle as head of state , namely the care and attention to the whole congregation .
A small example , let's call him , the Apostle often remember those who met quickly , without having to record . It's like the story contained in the Sunan Ahmad . A man from Bani Bahilah to the Messenger . Had the Apostle overlook , but after the man introduced himself , the memory of the Apostle strengthened .
The Apostle then asked , why now underweight . In fact , he once burly and well-built . The man replied , he fasted often acute . The story also stated in al - Maarif Lathaif Ibn Rajab al - Hanbali .
The same form of attention , often done when the Messenger of prayer . After the prayers , the apostle certainly reversing his position , no longer facing the Qiblah . Apostle companions looked at one by one . If anyone does come , will ask.
In the fight jihad too. Ridwan quote the hadith in Riyadh as- Saliheen and Saheeh Muslim from Ka'b bin Malik . Ka'ab is a friend who never ' roll call ' of the Prophet when battle of Tabuk . Ka'b asked its existence . By the end of the war he did not come.
The concern , said Ridwan , not limited to Muslims . Apostle also concerned about the non - Muslims . It's like when the Apostle to visit an ailing Jews of Medina .
The concern becomes even magnetism them to embrace Islam . " Attention like this is very important , " said the winner of a bachelor's degree from the Faculty of Islamic Theology Islamic University of Madinah al - Munawwarah on .
Dai who often fill the Prophet declared Islamic studies able to give special attention to people . Attention like this , according to him , now it does not have leaders . Community leaders , he said , needs to follow the example of how the Prophet paying attention .
Apostle attention focused on all the elements .
" Every state leaders will be held accountable for the people he leads " (Bukhari and Muslim ) .
At the peak of his leadership , the Prophet Muhammad is the ideal figure of the leader of the country . Lecturer in Indonesian Islamic University ( UII ) in Yogyakarta , Ridwan Hamidi , said , one of the features the Apostle as head of state , namely the care and attention to the whole congregation .
A small example , let's call him , the Apostle often remember those who met quickly , without having to record . It's like the story contained in the Sunan Ahmad . A man from Bani Bahilah to the Messenger . Had the Apostle overlook , but after the man introduced himself , the memory of the Apostle strengthened .
The Apostle then asked , why now underweight . In fact , he once burly and well-built . The man replied , he fasted often acute . The story also stated in al - Maarif Lathaif Ibn Rajab al - Hanbali .
The same form of attention , often done when the Messenger of prayer . After the prayers , the apostle certainly reversing his position , no longer facing the Qiblah . Apostle companions looked at one by one . If anyone does come , will ask.
In the fight jihad too. Ridwan quote the hadith in Riyadh as- Saliheen and Saheeh Muslim from Ka'b bin Malik . Ka'ab is a friend who never ' roll call ' of the Prophet when battle of Tabuk . Ka'b asked its existence . By the end of the war he did not come.
The concern , said Ridwan , not limited to Muslims . Apostle also concerned about the non - Muslims . It's like when the Apostle to visit an ailing Jews of Medina .
The concern becomes even magnetism them to embrace Islam . " Attention like this is very important , " said the winner of a bachelor's degree from the Faculty of Islamic Theology Islamic University of Madinah al - Munawwarah on .
Dai who often fill the Prophet declared Islamic studies able to give special attention to people . Attention like this , according to him , now it does not have leaders . Community leaders , he said , needs to follow the example of how the Prophet paying attention .
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact